OPINI : Covid-19 dari Wuhan Menyosor Ekonomi Indonesia

OPINI : Covid-19 dari Wuhan Menyosor Ekonomi Indonesia

Beliau adalah Prof Chairul Anwar Nidom seorang dosen Universitas Airlangga Surabaya yang beberapa tahun silam menemukan formula (ramuan) terhadap virus flu burung. Selaku ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF) dikabarkan saat ini sedang menyiapkan vaksin virus corona dengan teknologi Knock Out (KO). Niddom membagi Virus Corona dengan 2 tingkat yaitu Low Pathagenic; virus ringan, tidak terlalu ganas dan masih berada disaluran atas dan high pathogenic; respektornya berada di paru-paru dengan dampak fatal.

Kemudian kita kembali mempertanyakan dengan tegas posisi Indonesia dalam pertarungan dagang internasional, sejauh manakah peran dan keterlibatan Indonesia.

Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam, mineral baik darat maupun laut yang melimpah tentu memiliki senteran berbeda dari setiap negara-negara sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan ekonomi. Sebagai negara yang diprediksi akan mendapat bonus demografi mesti mengambil langkah srategis untuk melihat tantangan dan peluang ke depan akibat apa yang terjadi di China.

Kalau kita ingin melihat sejauh mana hubungan dagang Indonesia dengan China maka kita terlebih dahulu melihat dalam sejarah. Seperti yang dikemukakan oleh Geografer China kuno yang menyebut Indonesia sebagai nanyang artinya negara penghasil rempa-rempa dan barang langka eksotis seperti gading, cula badak, kulit harimau, tulang.

Sementara sutra yang halus dan keramik dari China dicari oleh kerajaan kuno Indonesia. Di situ kita melihat betapa hubungan dagang Indonesia dengan China telah ada jauh sebelum sistem perdagangan internasional itu dibesar-besarkan. Indonesia dengan China saat ini telah banyak melakukan ekspedisi diberbagai sektor dengan tujuan peningkatan pendapatan ekonomi.

Pandemik Covid-19 di Wuhan dan dampak ekonomi di Indonesia sangat jelas terlihat diberbagai sektor. Sektor yang paling berpengaruh di Indonesia tidak dipungkiri lagi adalah Industri Pariwisata. Melihat data pengunjung pariwisata Indonesia kebanyakan dari masyarakat Tionghoa.

Data BPS 2019 mencatat 12,86% konstribusi turis Tiongkok dari 16,11 juta kunjungan turis asing ke Indonesia. Naik 1,88 persen dibanding dengan jumlah kunjungan wisman periode yang sama tahun 2018 dengan jumlah 15,81 juta kunjungan wisman. Indonesia akan mengalami kemerosotan total pemasukan devisa di bagian pariwisata akibat Covid-19 apabila melakukan penutupan akses penerbangan internasional dan domestik dari dan menuju China dan negara-negara yang kena dampak fatal Covid-19.

Wishnutama Kusubandio selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan Indonesia berpotensi kehilangan devisa US$ 4 Miliar atau setara Rp 54,8 Triliun bila rute penerbangan dari dan menuju Tiongkok ditutup selama setahun. Jumlah devisa tersebut dari 2 juta turis asal tiongkok dalam setahun dengan rata-rata pengeluaran US$ 1.400 per kunjungan.

Pupulasi penduduk China yang mencapai Rp1,4 miliar bahkan menduduki puncak negara dengan populasi terbanyak di dunia dan Indonesia berada di posisi ke-4.

Dilihat dari data perjalanan internasional UNWTO bahwa 10% dari total masyarakat Tionghoa melakukan perjalanan Internasional dan tentu Indonesia adalah salah satu lokasi destinasi pilihan masyarakat Tionghoa. Wajar saja bila UNWTO pada tahun 2018 melansir bahwa Tiongkok sebagai negara dengan pengeluaran pariwisata internasional terbesar yaitu US$ 277 atau setara dengan Rp4.155 triliun sekaligus menjadi eksportir turis terbesar.

Pengeluaran Tiongkok telah melampui AS dengan total yang tercatat US$ 144 Miliar atau sekitar Rp2.160 triliun dan disusul oleh Jerman dengan pengeluaran yang tercatat US$ 94 Miliar, Inggris dengan US$ 76 Miliar.

Pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakan ekonominya haruslah membaca peluang dan tantangan yang akan terjadi serta efek berantai yang ditimbulkan. Bukan hanya dampak internal melainkan dampak global kepada negara-negara yang memiliki afiliasi ekonomi dengan Indonesia khususnya Indonesia dengan China.

Efek domino yang ditimbulkan dalam Industri Pariwisata ternyata menjalar ke berbagai sektor penunjang pariwisata seperti perhotelan, restoran, usaha retail. Padahal sektor pariwisata merupakan ladang bisnis yang memiliki pemasukan pasar yang begitu masif dan menjadi sasaran para investor Indonesia bahkan investor asing. Bali contohnya adalah lokasi wisata paling dominan menjadi perhatian wisatawan asing dunia dari berbagai negara mendapatkan dampak besar akibat pandemik ini. Beragam dampak yang terjadi seperti anjloknya okupansi hotel, turunnya omset retail, dan berkurangnya kunjungan konsumen asing ke UMKN untuk belanja keperluan destinasi.

Selanjutnya kita lihat secara terbuka disektor perdagangan ekspor-impor Indonesia dengan China. Defisit perdagangan Internasional Indonesia dengan China memiliki korelasi dampak signifikan dan berpotensi terjadi penurunan drastis apabila Indonesia tidak menjalin komunikasi dan hubungan secara diplomatik dengan China di saat mewabahnya Covid-19 di Wuhan.

Kekhawatiran Menteri Keuangan Sri Mulyani adalah sesuatu yang pasti dan patut direnungkan oleh pemerintah bahwa Indonesia harus senantiasa memperlihatkan status kemitraannya untuk menghindari kontraksi dagang dan sentimen ekonomi yang mungkin akan terjadi antara Indonesia dengan China akibat pandemi ini. BPS mencatat terjadi penurunan ekspor non-migas sebanyak 9,15% pada Januari 2020 diantaranya komoditas lemak, minyak hewan nabati, bijih, terak dan abu logam. Begitu juga dengan komoditas impor yang mengalami penurunan hal serupa seperti impor mesin, besi, baja, dan buah-buahan. Indonesia menempatkan China sebagai mitra dagang ekspor non-migas terbesar dengan angka mencapai USD 13,12 Miliar. Maka sepantasnya Indonesia dalam melihat China bukan hanya didasarkan pada problematika yang terjadi akhir-akhir ini. Melainkan sebagai mitra dagang internasional yang memiliki konstribusi besar dan power terhadap ekonomi di Indonesia beberapa tahun akan datang. (*)

Pages: 1 2

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.